loader image
Beranda » Blog » Metode Khatam Al Qur’an Fami Bisyauqin

Bagi seorang Muslim, berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan sekadar kewajiban ibadah, melainkan kebutuhan spiritual untuk menenangkan jiwa. Di antara berbagai cara mengkhatamkan Al-Qur’an, terdapat satu metode warisan sahabat Nabi yang sangat masyhur di kalangan pesantren dan penghafal Al-Qur’an (huffaz), yaitu metode Fami Bisyauqin. Istilah yang secara harfiah berarti “Mulutku dalam kerinduan” ini merujuk pada sebuah sistematika pembagian bacaan Al-Qur’an agar dapat selesai dalam waktu tepat satu minggu.

​Filosofi di Balik Nama Fami Bisyauqin

​Secara etimologi, Fami (فَمِي) berarti mulutku, dan Bi Syauqin (بِشَوْقٍ) berarti dengan kerinduan. Nama ini bukan sekadar kiasan, melainkan sebuah akronim dari urutan surat-surat yang menjadi titik awal bacaan setiap harinya. Metode ini didasarkan pada tradisi para sahabat seperti Usman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit yang membiasakan diri mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali.

​Landasan syar’i metode ini merujuk pada pesan Rasulullah SAW kepada Abdullah bin ‘Amr RA: “Bacalah (khatamkanlah) Al-Qur’an dalam tujuh hari dan jangan lebih cepat dari itu.” (HR. Bukhari & Muslim).

​Sistematika Pembagian (7 Manzil)

​Metode Fami Bisyauqin membagi Al-Qur’an ke dalam 7 bagian (manzil). Jika Anda memulai pada hari Jum’at (sebagaimana tradisi yang diijazahkan oleh banyak masyayikh, termasuk di Sirojuth Tholibin), maka jadwalnya adalah sebagai berikut:

HariHurufAwal Surat (Manzil)Cakupan Surat
Jum’atفFatihahAl-Fatihah s/d An-Nisa
SabtuمMaidahAl-Ma’idah s/d At-Taubah
AhadيYunusYunus s/d An-Nahl
SeninبBani IsrailAl-Isra s/d Al-Furqan
SelasaشSyu’araAsy-Syu’ara s/d Yasin
RabuوWas-SaffatAs-Saffat s/d Al-Hujurat
KamisقQafQaf s/d An-Nas (Khatam)

Mengapa Memilih Fami Bisyauqin?

​Berbeda dengan pembagian berbasis Juz (One Day One Juz) yang membagi Al-Qur’an secara kuantitas halaman (rata-rata 20 halaman per hari), Fami Bisyauqin memberikan ritme yang lebih dinamis.

  1. Pendekatan Berbasis Surat: Pembaca mengakhiri bacaan tepat di akhir surat, sehingga pemahaman terhadap konteks cerita atau hukum dalam satu surat tidak terputus di tengah jalan.
  2. Menjaga Kualitas Hafalan: Bagi para Hamalatul Qur’an (penghafal), metode ini adalah sarana muraja’ah yang paling efektif untuk menjaga kelancaran hafalan agar tetap melekat kuat (mutqin).
  3. Membangun Kedekatan Emosional: Dengan target tujuh hari, intensitas interaksi dengan Al-Qur’an menjadi sangat tinggi. Hal ini menumbuhkan rasa “rindu” jika sehari saja terlewat, sesuai dengan nama metodenya.

​Implementasi di Pondok Pesantren

​Di lembaga seperti Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, metode ini sering kali diberikan sebagai ijazah atau amalan rutin bagi para santri. Tujuannya adalah agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca saat momen tertentu seperti Ramadhan, tetapi menjadi wirid mingguan yang istiqomah.

​Bagi masyarakat umum, metode ini mungkin terasa berat pada awalnya karena jumlah halaman per harinya yang cukup banyak (sekitar 4-5 juz). Namun, para ulama menyarankan untuk membaginya dalam lima waktu salat. Misalnya, pada hari pertama (Fa – Al-Fatihah sampai An-Nisa), Anda bisa mencicil 10-15 halaman setiap selesai salat fardu.

​Penutup

​Metode Fami Bisyauqin adalah jembatan bagi siapa saja yang ingin meningkatkan level interaksinya dengan kitab suci. Ia melatih disiplin, memperkuat ingatan, dan yang terpenting, menghidupkan hati dengan cahaya wahyu secara konsisten setiap pekan.