loader image
Beranda » Blog » Berkah Khidmah Abdullah bin Abbas: Rahasia Menjadi Ulama Tafsir

Dalam tradisi pesantren, istilah “Khidmah” atau pengabdian memiliki kedudukan yang sangat sakral. Khidmah bukan sekadar membantu pekerjaan fisik, melainkan kunci pembuka pintu ilmu dan keberkahan. Salah satu potret terbaik mengenai keajaiban khidmah dapat kita lihat pada sosok sahabat cilik sekaligus sepupu Rasulullah SAW, yakni Abdullah bin Abbas RA.

​Meskipun usianya masih sangat muda saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas menjelma menjadi salah satu ulama paling cerdas di kalangan sahabat dengan gelar Habrul Ummah (Tinta Umat). Rahasianya? Bukan semata-mata kecerdasan otak, melainkan berkah khidmah yang luar biasa kepada Rasulullah SAW.

​Khidmah Kecil Berbuah Doa Dahsyat

​Suatu malam, saat Rasulullah SAW hendak melaksanakan salat malam, Abdullah bin Abbas dengan sigap menyiapkan air untuk wudu Rasulullah tanpa diminta. Beliau memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh gurunya sebelum sang guru mengatakannya.

​Melihat ketulusan dan kepekaan Ibnu Abbas dalam berkhidmah, Rasulullah SAW merasa tersentuh lalu memegang pundak atau kepala beliau sembari mendoakan sebuah doa yang mengubah jalannya sejarah ilmu pengetahuan Islam:

“Allahumma faqqihhu fidden, wa ‘allimhut ta’wil”

(Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama, dan ajarkanlah kepadanya ilmu tafsir).

​Mengapa Khidmah Begitu Berarti?

​Kisah Ibnu Abbas mengajarkan kita beberapa poin penting tentang nilai pengabdian di jalan ilmu:

  1. Kepekaan Hati: Khidmah terbaik adalah yang dilakukan sebelum diperintah. Ibnu Abbas memahami kebutuhan Rasulullah melalui pengamatan dan rasa cinta yang mendalam.
  2. Rida Sang Guru: Ketika seorang guru atau ulama merasa terbantu dan rida karena pengabdian muridnya, maka doa-doa tulus akan mengalir. Doa guru adalah “jalur ekspres” bagi seorang murid untuk meraih pemahaman ilmu yang sulit dicapai hanya dengan membaca buku.
  3. Ilmu yang Berkah: Banyak orang pintar, namun tidak banyak orang yang ilmunya bermanfaat bagi umat. Ibnu Abbas mendapatkan keduanya: kepintaran dan kebermanfaatan (barokah) berkat doa Rasulullah.
“Bukan seberapa banyak kitab yang kau hafal yang menentukan derajatmu, tapi seberapa besar rida gurumu yang mengalir melalui khidmah dan ketulusanmu.” — Mutiara Hikmah Sirojuth Tholibin

​Khidmah di Era Modern

​Pesan dari kisah ini sangat relevan bagi santri maupun pelajar masa kini. Terkadang, kita terlalu fokus pada berapa banyak kitab yang kita baca, namun lupa menghormati dan membantu orang yang memberikan ilmu tersebut.

​Khidmah bisa dilakukan dengan berbagai cara: menjaga adab di depan guru, membantu kebersihan tempat menuntut ilmu, hingga mendoakan guru-guru kita. Pengabdian yang tulus akan melunakkan hati dan memudahkan ilmu yang sulit untuk diserap ke dalam jiwa.

​Penutup

​Kisah Abdullah bin Abbas RA adalah bukti nyata bahwa kecerdasan spiritual (lewat khidmah) seringkali menjadi pintu bagi kecerdasan intelektual. Jangan pernah meremehkan bantuan kecil yang kita berikan kepada guru atau lembaga ilmu, karena di dalam setiap keringat pengabdian, mungkin terselip rida Allah yang akan mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat.