loader image
Beranda » Blog » Tahlil Rindu di Sepertiga Malam

​Di antara kepul asap kopi dan dinginnya ubin musala,

Namamu kularutkan dalam wirid-wirid yang paling rahasia.

Aku mencintaimu secara ghoib, tanpa butuh wujud yang meraba,

Sebab rindu ini telah mutawatir, berulang-ulang menyentuh muara.

​Engkau adalah nash yang suci, tak tersentuh tangan prasangka,

Sedangkan aku hanyalah tafsir yang seringkali keliru menduga.

Betapa aku ingin menjeda waktu, seperti waqaf lazim yang tenang,

Agar bisa lebih lama menatap bayangmu di sela lembar kitab yang usang.

​Hati ini telah i’tikaf di dalam sunyi,

Menutup diri dari hingar bingar dunia yang fana ini.

Satu-satunya harapanku hanyalah syafaat dari ketulusan,

Agar Tuhan tak membiarkan rindu ini mati dalam ketersinggahan.

​Biarlah ia mengalir seperti tasrifan yang tak pernah usai,

Dari masa lalu yang jauh, hingga ke masa depan yang belum teruntai.

Aku menantimu di ujung kesabaran yang paling zuhud,

Hingga takdir sujud di hadapan doa-doa yang paling sujud.