Dalam dunia menghafal Al-Qur’an, seringkali kita terjebak pada angka, kecepatan, dan kemampuan kognitif. Banyak yang beranggapan bahwa keberhasilan mengkhatamkan 30 juz adalah hasil murni dari kecerdasan otak atau ketangkasan lidah dalam melafalkan ayat. Namun, sebuah pesan mendalam dari KH. Ulin Nuha Arwani, pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus, mematahkan ego tersebut.
Beliau menegaskan sebuah hakikat yang fundamental: Mengkhatamkan Al-Qur’an adalah murni Fadhal (anugerah) dari Allah SWT, bukan karena kehebatan kita.
Menepis Kesombongan Intelektual
KH. Ulin Nuha Arwani mengingatkan para penghafal Al-Qur’an agar tidak merasa jemawa dengan kemampuan hafalannya. Jika khatamnya seseorang hanya bersandar pada kecerdasan, maka banyak orang jenius di luar sana yang belum tentu diberi kesempatan oleh Allah untuk menyelesaikan bacaan atau hafalan mereka.
Kecerdasan hanyalah alat, namun “izin” untuk terus berinteraksi dengan kalam-Nya adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya. Ketika seseorang merasa bahwa keberhasilannya adalah hasil jerih payahnya sendiri, di situlah bibit kesombongan muncul yang justru dapat menjauhkan keberkahan dari Al-Qur’an itu sendiri.
Al-Qur’an adalah Tamu yang Mulia
Dalam perspektif tasawuf yang disampaikan beliau, Al-Qur’an diposisikan sebagai tamu agung. Kita tidak bisa memaksa tamu agung untuk hadir jika rumah (hati) kita tidak layak atau jika sang tamu memang tidak berkenan hadir.
Oleh karena itu, ketekunan dalam deres (membaca berulang) bukan sekadar latihan lisan, melainkan upaya “mengetuk pintu” rahmat Allah. KH. Ulin Nuha menekankan bahwa tugas seorang santri atau pembaca Al-Qur’an hanyalah berikhtiar dengan istiqomah, sementara hasil akhirnya adalah hak prerogatif Allah SWT.
Makna Kelincahan dan Kelancaran
Seringkali kita melihat orang yang sangat lancar (lanyah) dalam membaca Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa kelancaran tersebut jangan sampai membuat kita lalai. Kelancaran tersebut adalah nikmat yang harus disyukuri, bukan untuk dipamerkan.
Sebaliknya, bagi mereka yang merasa sulit menghafal atau sering lupa, janganlah berputus asa. Sebab, selama seseorang masih mau membuka mushaf, artinya Allah masih memberikan “jatah” anugerah kepada orang tersebut untuk tetap bersama Al-Qur’an.
Pesan untuk Para Pejuang Al-Qur’an
Pesan utama dari KH. Ulin Nuha Arwani ini membawa ketenangan sekaligus peringatan:
- Luruskan Niat: Jangan mengejar khatam hanya untuk status atau pujian.
- Perbanyak Syukur: Setiap kali menyelesaikan satu juz atau satu putaran khatam, ucapkan syukur karena Allah baru saja memberikan anugerah-Nya yang paling mahal.
- Tawadhu (Rendah Hati): Tetaplah merasa fakir di hadapan Allah. Akuilah bahwa tanpa pertolongan-Nya, satu ayat pun tidak akan mampu kita hafal.
Penutup
Nasihat KH. Ulin Nuha Arwani ini menjadi oase bagi para pejuang Al-Qur’an agar tidak mudah stres karena target yang belum tercapai, dan tidak sombong saat target sudah di tangan. Khatam Al-Qur’an adalah bukti bahwa Allah sedang memberikan Fadhal-Nya kepada kita. Tugas kita hanyalah satu: menjaga anugerah tersebut dengan adab dan keistiqomahan.










