loader image
Beranda » Blog » Biografi KH. Muhammad Mudlofir Syafi’i

KH. Mudlofir Syafi’i lahir pada hari Kamis, 25 Shofar 1375 H bertepatan dengan 13 Oktober 1955, di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan K. Syafi’i dan Ibu Syarifah, dari sepuluh bersaudara.

Silsilah Keluarga

  1. KH. Mudlofir Syafi’i AH
  2. Ibu Musayaroh (wafat usia 1 tahun)
  3. K. Agus Salim AH
  4. Bp. Saibatul Hamdi
  5. Ibu Asthofah (wafat usia 1 tahun)
  6. K. Rohwan AH
  7. Ust. Ulin Nuha AH (wafat usia 23 tahun)
  8. Bp. Hasan Asyari
  9. K. Syafiq Syafi’i AH (wafat usia 42 tahun)
  10. Ibu Lutfiyah AH

Awal Perjuangan Keilmuan Keluarga

Perjalanan keilmuan Al-Qur’an dalam keluarga beliau bermula dari sang kakek, Simbah K. Isma’il, yang pernah nyantri kepada K. Sholeh Kendal. Karena kecerdasan dan ketawadhuannya, beliau dijodohkan dengan putri sang guru, Ibu Maryam.

Setelah menikah, Simbah K. Isma’il dan Ibu Maryam menetap di Desa Brabo dan menjadi guru Al-Qur’an pertama di Desa Brabo. Dengan penuh perjuangan, keduanya mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama kepada masyarakat awam, bahkan sering mengajar mulai pukul 20.00 hingga 24.00 malam karena banyaknya masyarakat yang belajar.

Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh putra mereka, K. Syafi’i, bersama istrinya Ibu Syarifah, yang kemudian dikaruniai sepuluh orang anak, dengan KH. Mudlofir Syafi’i sebagai anak sulung.

Masa Kecil dan Pendidikan

Sejak kecil, KH. Mudlofir Syafi’i mendapatkan perhatian khusus dalam pendidikan agama. Beliau sering diajak oleh Simbah Maryam untuk bersilaturahmi kepada para kiai dan habaib dengan tujuan memperoleh keberkahan ilmu.

Pendidikan Al-Qur’an beliau dimulai langsung dari ayahnya sendiri, dari bin-nadzor hingga bil-gho’ib (hafalan). Selain itu, beliau juga belajar ilmu agama kepada KH. Syamsuri Dahlan dan KH. Baedlowi di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo. Pada usia 13 tahun, beliau telah menghafal 13 juz Al-Qur’an.

Perjuangan Menghafal Al-Qur’an

Pada tahun 1969, KH. Mudlofir Syafi’i melanjutkan hafalan Al-Qur’an kepada KH. Muhammad Marwan Jragung dengan bekal hafalan 13 juz. Meskipun kondisi ekonomi keluarga sederhana, hal tersebut tidak mematahkan semangat beliau dalam menuntut ilmu.

Ketika memiliki uang saku, beliau menetap di pondok. Namun ketika tidak memilikinya, beliau nglaju (pulang-pergi) dari Brabo ke Jragung menggunakan sepeda. Di rumah, beliau juga membantu orang tua dengan mengurus ladang, menggembala kambing, dan mencari rumput.

Selama masa nyantri, beliau memiliki target pribadi untuk nderes Al-Qur’an minimal 10 juz setiap hari.

Mengajar dan Khataman

Karena semakin banyaknya masyarakat yang belajar kepada K. Syafi’i dan Ibu Syarifah, pada tahun 1971 (usia 18 tahun), KH. Mudlofir Syafi’i diminta membantu mengajar Al-Qur’an di Desa Brabo meskipun saat itu beliau belum menyelesaikan hafalan sepenuhnya.

Setelah dua tahun mengajar, beliau berhasil khatam Al-Qur’an bil-gho’ib pada tahun 1973. Kemudian pada tahun 1975, beliau menyelesaikan tiqror dan melanjutkan belajar Qira’ah Sab’ah. KH. Mudlofir Syafi’i bersama Bp. K. Masrokan tercatat sebagai hafidz pertama di Desa Brabo.

Mendirikan Pondok Pesantren

Dengan dukungan masyarakat Desa Brabo, pada tahun 1975 KH. Mudlofir Syafi’i mendirikan Pondok Pesantren At-Taufiiqiyyah. Sejak saat itu hingga sekarang, santri dari Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin turut belajar Al-Qur’an kepada beliau.

Santri pertama yang khatam bil-gho’ib di bawah bimbingan beliau adalah Bp. K. Sholeh Sragen, yang kemudian menjadi pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin.

Kepribadian dan Keteladanan

KH. Mudlofir Syafi’i dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, terutama dalam pendidikan dan pembinaan akhlak santri. Dalam pengajaran, beliau menekankan kerapian, adab, dan kedisiplinan.

Santri yang berambut gondrong, berkuku panjang, atau berpakaian tidak rapi akan diminta pulang dan tidak diperkenankan setor hafalan sebelum memperbaiki diri. Ketegasan ini merupakan bentuk pendidikan akhlak agar santri tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, beradab, dan bertanggung jawab.